

Pondok pesantren Al Azkiya’ – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan nama AI (Artificial Intelligence) telah masuk hampir di seluruh sektor kehidupan, tak terkecuali lingkungan pesantren.
Menyikapi perubahan ini, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kota Malang menggelar Road Show Pesantren perdana dengan tema “Santri dan AI: Tantangan dan Peluang”, bertempat di Pondok Pesantren Al-Azkiya’, pada Jumat malam, 23 Mei 2025.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus RMI NU Kota Malang, yaitu Sekretaris RMI, Dr. KH. Djunaidi, Dr. Gus Syarifuddin, M.Pd, Dr. Gus H. Abdur Rauf, M.H., tokoh muda Mas Abu Nawas, dan tentunya pembicara utama Dr. Cries Avian.
Sebagai informasi, Dr. Cries Avian merupakan salah satu pengurus PCI NU Taiwan yang juga menjabat sebagai Koordinator Komunikasi dan Informasi Mahasiswa NU Taipei. Kehadiran beliau tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri yang memenuhi aula pesantren malam itu.
Acara dimulai pukul 19.30 WIB dan diawali dengan sambutan hangat dari Ibu Nyai Erik Sabti Rahmawati MA selaku Pengasuh PP. Al-Azkiya’, disusul dengan sambutan Ketua RMI NU Kota Malang sebelum masuk ke sesi pemaparan materi.
Ketua RMI NU Kota Malang dalam sambutannya menyampaikan bahwa Road Show Pesantren ini dirancang untuk menyapa langsung para santri dan kiai di berbagai pesantren wilayah Malang, sekaligus menggali potensi dan menyerap aspirasi. “Kami ingin membumikan semangat Santri Berkarya di Era Teknologi dan menjadikan pesantren sebagai pusat perubahan sosial yang tidak tercerabut dari tradisi,” ujarnya.
Pada sesi utama, Dr. Cries Avian menyampaikan materi seputar perkembangan AI dari perspektif akademik dan aplikasinya. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi besar jika dimanfaatkan secara positif oleh kalangan santri.
“Santri haruslah bisa adaptif dan siap berperan di era digital. AI bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk berdakwah agar kita bisa berkontribusi lebih luas,” tegasnya.
Beliau juga mengajak para santri untuk mulai mengenali tools AI yang relevan dan bernuansa islami, seperti penerjemah otomatis berbasis syar’i, chatbot islami, hingga sistem pembelajaran berbasis teknologi yang dapat memperkuat metode pengajaran kitab kuning.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi dan silaturahmi antara pesantren dan RMI, tetapi juga tempat untuk memperluas cakrawala berpikir para santri melalui forum diskusi tematik atau nadwah. Semoga kegiatan ini dapat menjadi pemantik lahirnya santri-santri visioner yang siap menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai penjaga ilmu dan akhlak.